ILMU TASAWUF, ILMU BATIN ATAU ILMU HAKIKAT


Ilmu tasawuf itu adalah ilmu rohani atau dikatakan juga sebagai ilmu hakikat atau ilmu batin. Mengapa ilmu ini dikatakan ilmu rohani? Karena ilmu tasawuf membahas mengenai roh. Kata tasawuf itu diambil daripada bermacam-macam kata. Salah satunya adalah kata sofa yang berarti bersih atau murni.
Tegasnya, ilmu tasawuf itu adalah ilmu bagaimana hendak membersihkan atau memurnikan roh (hati) atau nafsu. Agar dari dorongan hati yang bersih itu dapat membersihkan pula anggota lahir daripada melakukan kemungkaran dan kesalahan. Jadi, ilmu tasawuf itu adalah ilmu mengenai cara-cara membersihkan lahir dan batin daripada dosa dan kesalahan. Bahkan kesalahan lahir ini berasal dari kesalahan batin. Dosa lahir ini berlaku setelah berlakunya dosa batin.
Kenapa ilmu tasawuf juga dikatakan ilmu batin?
karena roh atau hati memang tidak dapat dilihat oleh mata kepala. Ia adalah makhluk yang tersembunyi. ilmu ini dinamakan ilmu batin karena ia membahaskan tentang hati dan sifat-sifatnya yang memang tidak dapat dilihat dengan mata lahir tapi dapat dilihat oleh mata batin.
Menurut anggapan sebagian masyarakat, bahwa ilmu batin itu adalah ilmu asihan atau ilmu kebal. Mereka menganggap bahwa orang yang belajar ilmu batin itu mempelajari ilmu kebal atau belajar ilmu asihan. Tidak ada salahnya mempelajari ilmu tersebut selama tidak ada unsur-unsur syirik. Tetapi itu bukan ilmu tasawuf atau ilmu kerohanian seperti apa yang dibahas di sini.
Adakalanya ilmu tasawuf disebut juga ilmu hakikat. Ini kerana hakikat manusia itu yang sebenarnya adalah rohnya. Yang menjadikan manusia itu hidup dan berfungsi adalah rohnya. Yang menjadikan mereka mukalaf disebabkan adanya roh. Yang merasa senang dan susah adalah rohnya. Yang akan ditanya di Akhirat adalah rohnya. Hati atau roh itu tidak mati sewaktu jasad manusia mati. Cuma ia berpindah ke alam Barzakh dan terus ke Akhirat.
Jadi hakikat manusia itu adalah roh. Roh itulah yang kekal. Sebab itu ia dikatakan ilmu hakikat. Apabila kita mempelajari sungguh-sungguh ilmu rohani ini hingga kita berhasil membersihkan hati, maka kita hanya akan miliki sifat-sifat mahmudah yaitu sifat-sifat terpuji. Sifat-sifat mazmumah (sifat-sifat terkeji) sudah tidak ada lagi. Maka jadilah kita orang yang bertaqwa yang akan diberi bantuan oleh Allah SWT di dunia dan Akhirat. Kebersihan hati inilah yang akan menjadi pandangan Allah.
Bila hati bersih, sembahyangnya diterima oleh Allah SWT. Demikian juga puasanya, perjuangannya diterima oleh Allah. Bila hati bersih, wirid dan zikirnya diterima oleh Allah. Bila hati bersih, pengorbanannya diterima oleh Allah. Tetapi bila hati tidak bersih, seluruh amalan lahirnya tidak akan diterima.
Itulah yang dimaksudkan di dalam ajaran Islam bahawa walaupun amalan lahir dan amalan batin diperintahkan melaksanakannya tetapi penilaiannya adalah amalan roh atau hatinya. Ini sesuai dengan Hadis yang artinya: “Cukup sembahyang sunat dua rakaat daripada hati yang bertaqwa.” Maknanya dua rakaat sembahyang seorang yang bertaqwa itu lebih baik daripada seorang yang banyak sembahyang tetapi hati masih kotor. Selain sembahyang itu diterima, dua rakaat sembahyang dari hati yang bertaqwa itu akan memberi kesan kepada kehidupan seseorang itu. Sembahyangnya itu bisa mencegah dirinya dari berbuat kemungkaran dan kemaksiatan, lahir dan batin.
Berdasarkan Hadis di atas, maka apa yang kita kerjakan selama ini seperti mengerjakan sembahyang yang sudah lama diperjuangkan, berkorban, menghabiskan waktu untuk berdakwah, sembahyang berjamaah, ikut jamaah pengajian, yang mana ini semua adalah amalan lahir, maka Allah tidak akan menerima semua amalan itu disebabkan hati kita masih kotor. Roh kita masih tidak bersih. Oleh karena itu di dalam menunaikan kewajiban yang lahir ini, jangan lupa kita memikirkan roh kita. Kerana roh yang kotor itulah yang akan mencacatkan amalan lahir, mencacatkan sembahyang, mencacatkan segala ibadah dan mencacatkan pahala seluruh kebaikan kita.
Orang yang banyak amal ibadah, tetapi hati (roh) nya masih kotor, maka amalannya tidak akan sampai kepada Allah, melainkan akan tersangkut di pintu langit pertama sebelum mencapai ke pintu langit yang ketujuh.
Mengapa amalan lahir itu tersangkut? Tersangkutnya amalan itu karena adanya penyakit batin atau roh (hati) kita yang masih kotor. Orang yang mengumpat umpamanya, karena hatinya sakit. Walaupun mengumpat itu nampaknya amalan lahir, mulutnya yang bercakap tetapi ia datang dari hati yang kotor. Sebenarnya hati itulah yang mengumpat.
Hasad dengki, riyak, kibir, sombong dan sebagainya, itu semua amalan hati. Maka yang menghijab amalan lahir ini adalah mazmumah hati. Amalan hati (roh) ini hendaklah dijaga karena mazmumah hati inilah yang membatalkan pahala amalan-amalan lahir.
Sekali lagi, bahwa ilmu rohani adalah ilmu yang mengesan tabiat roh atau hati yang mazmumah atau mahmudahnya. Bukan untuk mengetahui hakikat zat roh itu sendiri. Hakikat roh itu sendiri tidak akan dapat dijangkau oleh mata kepala atau tidak akan dapat dibahaskan. Tetapi apa yang hendak dibahaskan adalah sifat-sifatnya sahaja supaya kita dapat mengenal sifat-sifat roh atau hati. Mana yang mahmudahnya (positif) hendak disuburkan dan dipertajam. Kita memelihara dan mempertahankannya karena itu adalah diperintah oleh syariat, diperintah oleh Allah dan Rasul dan digemari oleh manusia. Mana yang mazmumahnya (negatif) hendaklah ditumpas karena sifat-sifat negatif itu dimurkai oleh Allah dan Rasul serta juga dibenci oleh manusia.
Oleh karena itu, barangsiapa yang memiliki ilmu tentang roh ini, maka ia akan mudah mengesan sifat-sifat yang ada pada roh itu. Mahmudahnya dapat disuburkan dan yang mazmumahnya dapat ditumpas. Maka jadilah roh atau hati seseorang itu bersih dan murni.
Sedangkan hati adalah raja dalam kerajaan diri. Bila raja dalam kerajaan diri ini sudah bersih, baik, adil, takut kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul, maka sudah tentu dia akan mendorong rakyat dalam dirinya iaitu anggota (jawarih) ini untuk tunduk dan patuh kepada Allah. Mudah untuk membangunkan syariat dan Sunnah Rasulullah SAW serta mudah berbuat bermacam-macam bentuk kebaikan.
Maka kebaikan anggota lahir inilah yang merupakan buah daripada kebersihan jiwa itu sendiri. Jadi kebersihan jiwa itulah pokok yang melahirkan kebaikan kepada tangan, mulut, mata, telinga, kaki dan seluruh tindakan lahir kita ini. Maka bila roh sudah baik, akan jadi baiklah seluruh lahir dan batin manusia. Bila baik lahir batin manusia, dia akan menjadi orang yang bertaqwa.
Bila dia telah menjadi orang yang bertaqwa, maka dia dapat pembelaan dari Allah di dunia maupun di Akhirat. Selagi belum menjadi manusia yang bertaqwa, tidak ada jaminan dari Allah akan dibela di dunia maupun di Akhirat. Kalau sekedar menjadi orang Islam, tidak ada jaminan dari Allah untuk dibela.
Dalam Al Quran, Allah tidak mengatakan akan membela orang Islam. Tidak ada satu ayat pun yang Allah berjanji hendak membantu orang Islam. Tetapi yang ada dalam ayat Al Quran maupun dalam Hadis, Allah hanya membantu orang-orang mukmin yang bertaqwa. Jadi bila jiwa sudah bersih, maka akan bersih lahir dan batin, maknanya orang itu sudah memiliki sifat-sifat taqwa. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah SWT dalam Al Quran: “Hendaklah kamu berbekal. Sesungguhnya sebaik-baik bekal itu adalah sifat taqwa.” (Al Baqarah: 197)
Bila seseorang itu sudah dapat berbekal dengan sifat-sifat taqwa, maka dia akan dapat pembelaan dari Allah SWT. Pembelaan di dunia maupun di Akhirat. Sebenarnya, di sinilah rahasia kejayaan dan kemenangan umat Islam. Juga rahasia kehebatan umat Islam hingga berhasil menumpas musuh-musuhnya baik musuh lahir maupun musuh batin.

Comments

Popular posts from this blog

Gallstones dalam Hati & Pundi Hempedu - Punca utama penyakit KRONIK yang amat jarang diceritakan dan cara MUDAH Untuk mengeluarkannya.

Cara mudah cuci kolon & usus kecil (small intestine)

"Reverse Kidney Stage" anda melalui Plan Pemakanan yang komprehensif.